Asal-usul Kota Batang
Kerajaan
Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Sultan Agung berhasil mempersatukan kerjaan-kerajaan Islam di Jawa. Setelah berhasil mempersatukan
kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Sultan Agung memusatkan perhatian untuk melawan
VOC di Batavia. Kala itu, VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen akan mendirikan
benteng untuk memperkuat kekuasaannya di Jawa. Hal inilah yang mengakibatkan
Sultan Agung Hanyokrokusumo naik pitam dan berniat untuk menyerang Belanda.
Sultan
Agung Hanyokrokusuma kemudian memberikan mandat kepada Tumenggung Bahurekso
(Raden Bahu) untuk memimpin penyerangan
terhadap VOC di Batavia.
“Maaf, ada
gerangan apakah Sinuhun memanggil kawula?” tanya Tumenggung Bahurekso
sesampai di hadapan Sultan Agung.
“Hmm…
begini. Aku perintahkan kau untuk memimpin penyerangan terhadap VOC di Batavia.
Tindakan VOC makin seenaknya. Mereka tak mau mengakui kedaulatan Mataram. Semua
kapal dagang Mataram dihalang-halangi berlayar ke Malaka,” jawab Sultah Agung.
“Betul. Keberadaan
VOC di Batavia lama-lama mengancam masa depan Pulau Jawa. Kawula siap untuk mengemban tugas dari Sinuhun,” jawab Tumenggung
Bahurekso dengan tegas lalu undur diri.
Dalam perjalanannya menuju Batavia,
Tumenggung Bahurekso kemudian membuka Alas Roban untuk persawahan. Alas Roban akan
dijadikan daerah pertanian untuk mencukupi persediaan beras dan pangan bagi
para prajurit Mataram yang akan berperang melawan VOC.
Tidaklah mudah bagi Tumenggung
Bahurekso untuk menakhlukkan Alas Roban yang terkenal angker. Alas Roban
merupakan hutan yang masih perawan, lebat, dan menyeramkan karena dihuni oleh
para jin dan siluman-siluman. Beberapa prajurit Mataram sakit dan mati gara-gara
diganggu para siluman. Untunglah dengan kesaktiannya, Tumenggung Bahurekso
dapat mengalahkan pemimpin mereka yang bernama Dadung Awuk.
Setelah Alas Roban berhasil dibuka
oleh Bahurekso, pekerjaan berikutnya adalah mengusahakan pengairan untuk
mengairi persawahan. Tumenggung Bahurekso pun membuat bendungan (sekarang
dikenal dengan Bendungan Kedungdowo Kramat).
Rupanya, para siluman masih dendam kepada Bahurekso, bendungan yang
sudah jadi sering jebol dan dirusak oleh mereka. Akhirnya, Tumenggung Bahurekso
menyerang mereka yang bermarkas di sebuah kedung sungai. Dengan kesaktiannya,
Tumenggung Bahurekso dapat mengalahkan para siluman tersebut. Bendungan pun
kembali mengalir.
Para siluman ternyata tak mau
menyerah. Mereka melancarkan aksinya kembali, mengganggu Tumenggung Bahurekso
dan prajuritnya. Air dalam bendungan tak lancar mengalir. Meskipun airnya
mengalir, tetapi tidak lancar. Kadang besar, kadang kecil, bahkan tidak
mengalir sama sekali. Raden Bahurekso pun meneliti bendungan, dilihatnya ada
batang kayu (watang) besar menyumbat
aliran air.
“Prajurit! Angkat watang yang menyebabkan air tidak
mengalir itu!” perintahnya pada beberapa prajurit.
“Baik, Raden!” jawab puluhan
prajurit serempak.
Para prajurit mengangkat batang kayu
yang menghalangi aliran air tersebut. Batang kayu yang merupakan jelmaan
siluman itu, tak bergeming. Para prajurit heran. Mereka mencoba berkali-kali
untuk menyingkirkan, namun batang kayu tersebut tetap pada tempatnya. Para
prajurit tak mampu mengangkatnya.
Raden Bahurekso terpaksa turun
tangan. Dengan sekali embat patahlah watang tersebut. Dari peristiwa ngembat
watang itulah asal mula Kota Batang. Jadi, nama Batang merupakan akronim dari
“ngembat watang” yang artinya mengangkat batang kayu.
Sumber gambar:
https://www.posjateng.id/warta/revisi-rtrw-batang-agungkan-pariwisata-investasi-b1Xeu9bpW

Komentar
Posting Komentar